Budaya Belajar Sejak Dini

Jadikan Belajar merupakan Kebutuhan Hidup Bukan Kewajiban.

Budaya Belajar Sejak Dini

Jadikan Belajar merupakan Kebutuhan Hidup Bukan Kewajiban.

Budaya Belajar Sejak Dini

Jadikan Belajar merupakan Kebutuhan Hidup Bukan Kewajiban.

Budaya Belajar Sejak Dini

Jadikan Belajar merupakan Kebutuhan Hidup Bukan Kewajiban.

Budaya Belajar Sejak Dini

Jadikan Belajar merupakan Kebutuhan Hidup Bukan Kewajiban.

Jumat, 18 Agustus 2017

Tuntutan Perubahan Pendidikan Kejuruan

Tuntutan Perubahan Pendidikan Kejuruan 
Perubahan tehnologi menuntut ada perubahan juga pada pendidikan kejuruan, karna sekarang ini tatanan kehidupan biasanya serta tatanan perekonomian pada terutama tengah alami pergeseran paradigma ke arah global. Pergeseran ini juga akan buka kesempatan kerja sama antar Negara makin terbuka serta di sisi 
beda, persaingan perebutan antar Negara makin ketat. Untuk tingkatkan kekuatan persaingan perebutan dalam perdagangan bebas, dibutuhkan rangkaian kemampuan daya saing yang kuat, diantaranya kekuatan manajemen, tehnologi serta sumber daya manusia. Sumber daya manusia adalah sumber daya aktif yang bisa memastikan keberlangsungan hidup serta kemenangan dalam persaingan perebutan satu bangsa. 
Pendidikan mempunyai peranan yang begitu strategis dalam wujudkan sumber daya manusia yang kuat untuk hadapi persaingan perebutan bebas. Termasuk juga pendidikan kejuruan yang mempersiapkan peserta didik atau sumber daya manusia yang mempunyai kekuatan kerja jadi tenaga kerja menengah sesuai sama tuntutan dunia usaha serta dunia industri. Oleh karenanya sesuai sama tuntutan perubahan pendidikan kejuruan, jadi memerlukan pengembangan pendidikan serta kursus kejuruan di SMK untuk masa depan. 
1. Tuntutan peserta didik 
Pendidikan kejuruan mempunyai peranan untuk mempersiapkan peserta didik supaya siap bekerja, baik bekerja dengan mandiri (wiraswasta) ataupun isi lowongan pekerjaan yang ada. SMK jadi satu diantara institusi yang mempersiapkan tenaga kerja, dituntut dapat hasilkan lulusan seperti yang diinginkan dunia kerja. Tenaga kerja yang diperlukan yaitu sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi sesuai sama bagian pekerjaannya, mempunyai daya penyesuaian serta daya saing yang tinggi. Atas basic itu, pengembangan kurikulum dalam rencana penyempurnaan pendidikan menengah kejuruan mesti sesuai dengan keadaan serta keperluan dunia kerja. 
Tuntutan peserta didik serta lulusan yang sesuai sama keperluan dunia kerja butuh jadikan sumber pijakan didalam merumuskan maksud pendidikan kejuruan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jadi bentuk unit pendidikan kejuruan seperti ditegaskan dalam keterangan Pasal 15 UU SISDIKNAS, adalah pendidikan menengah yang menyiapkan peserta didik terlebih untuk bekerja dalam bagian spesifik, yang dirumuskan dalam maksud umum serta maksud spesial seperti berikut. 
Maksud Umum : 
a. Tingkatkan keimanan serta ketakwaan peserta didik pada Tuhan Yang Maha Esa 
b. Meningkatkan potensi peserta didik supaya jadi warga Negara yang berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis serta bertanggungjawab. 
c. Meningkatkan potensi peserta didik supaya mempunyai pikiran kebangsaan, mengerti serta menghormati keanekaragaman budaya bangsa Indonesia 
d. Meningkatkan potensi peserta didik supaya mempunyai kepedulian pada lingkungan hidup, dengan dengan aktif ikut pelihara serta melestarikan lingkungan hidup, dan memakai sumber daya alam dengan efisien serta efektif. 
Maksud Spesial : 
a. Mempersiapkan peserta didik supaya jadi manusia produktif, ataupun bekerja mandiri, isi lowongan pekerjaan yang berada di dunia usaha serta industri jadi tenaga tingkat kerja menengah, sesuai sama kompetensi dalam program ketrampilan yang dipilihnya. 
b. Mempersiapkan peserta didik supaya dapat pilih karier, ulet serta gigih dalam bersaing, menyesuaikan di lingkungan kerja, serta meningkatkan sikap profesional dalam bagian ketrampilan yang disukainya. 
c. Membekali peserta didik dengan ilmu dan pengetahuan, tehnologi serta seni, supaya dapat meningkatkan diri di masa datang baik dengan mandiri ataupun lewat tahap pendidikan yang lebih tinggi 
d. Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi sesuai sama program ketrampilan yang diambil. 
(Disarikan dari Kurikulum SMK Program Ketrampilan Tata Baju, 2004). 

2. Tuntutan menjawab keperluan orang-orang 
Dilihat dari perspektif perubahan keperluan evaluasi serta aksesibilitas duia usaha/industri, sedikitnya tiga dimensi pokok sebagai tantangan untuk SMK, baik dalam konteks regional ataupun nasional, salah satunya : 
a. Implementasi program pendidikan serta kursus mesti fokus pada pendayagunaan potensi sumber daya lokal, sembari memaksimalkan hubungan kerja dengan intensif dengan institusi pasangan 
b. Proses kurikulum mesti berdasar pada pendekatan yang lebih fleksibel sesuai sama tren perubahan serta perkembangan tehnologi supaya kompetensi yang didapat peserta didik sepanjang serta setelah ikuti program diklat, mempunyai daya penyesuaian yang tinggi 
c. Program pendidikan serta kursus seutuhnya mesti bertujuan mastery learning (belajar selesai) dengan melibatkan peranan aktif – partisipatif beberapa stakeholders pendidikan, termasuk juga optimalisasi peranan Pemerintah Daerah untuk merumuskan pemetaan kompetensi ketenagakerjaan di daerahnya jadi input untuk SMK dalam penyelenggaraan diklat berkepanjangan. 
Untuk mencari jalan keluar dari tantangan itu diatas, SMK jadi satu diantara instansi penyelenggara pendidikan serta kursus kejuruan mesti dapat memberi service pendidikan paling baik pada peserta didik meskipun keadaan fasilitasnya begitu bermacam. Seperti di ketahui, kalau investasi serta pembiayaan operasional paling besar yang dikerjakan oleh pemerintah dalam pendidikan kejuruan yaitu pada system SMK. Dengan fenomena ini, apakah SMK masih tetap dibutuhkan? 
Pembukaan serta penutupan satu SMK pada intinya begitu bergantung pada tuntutan keperluan pengembangan sumber daya manusia di lokasi atau daerah setempat. Pembukaan institusi SMK baru begitu bisa saja bila ada tuntutan keperluan sumber daya manusia yang berkaitan dengan peranan serta peranan SMK. Seperti yang dikemukakan Djojonegoro (1998), kalau : “Secara teoritik pendidikan kejuruan begitu dipentingkan karna lebih dari 80 persen tenaga kerja di lapangan kerja yaitu tenaga kerja tingkat menengah ke bawah serta bekasnya kurang dari 20 persen bekerja pada susunan atas. Oleh karenanya, pengembangan pendidikan kejuruan terang adalah hal perlu”. 
Penutupan satu institusi SMK cuma bisa saja bila dengan hukum tidak bisa dipertahankan atau karna ada tuntutan orang-orang yang sekalipun tidak bisa dipertahankan atau dijauhi. Tetapi pada intinya, tak ada argumen untuk tutup SMK sepanjang institusi itu masih tetap bisa menggerakkan peranan serta peranan dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. 
Usaha untuk mempertahan SMK yang bisa menjawab tuntutan keperluan orang-orang, dalam hal semacam ini SMK mesti dapat menggerakkan peranan serta peranannya dengan baik. Dalam menggerakkan peranan serta peranannya itu, jadi pendidikan serta kursus di SMK butuh memerhatikan prinsip-prinsip pendidikan kejuruan yang dikemukakan Prosser (Djojonegoro, 1998) ; seperti berikut : 
a. Pendidikan kejuruan juga akan efektif bila lingkungan di mana siswa dilatih adalah tiruan lingkungan di mana kelak ia juga akan bekerja. 
b. Pendidikan kejuruan yang efisien cuma bisa diberi di mana beberapa pekerjaan latihan dikerjakan lewat cara, alat serta mesin yang sama dengan yang diputuskan ditempat kerja. 
c. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila dia melatih seorang dalam rutinitas berfikir serta bekerja seperti yang dibutuhkan dalam pekerjaan itu sendri 
d. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila dia bisa memampukan tiap-tiap individu memodali minatnya, pengetahuannya serta ketrampilannya pada tingkat yang paling tinggi 
e. Pendidikan kejuruan yang efisien untuk tiap-tiap profesi, jabatan atau pekerjaan cuma bisa diberi pada seorang yang memerlukannya, yang menginginkannya serta yang bisa untung darinya 
f. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila pengalaman latihan untuk membuat rutinitas kerja serta rutinitas berfkir yang benar diulangkan hingga cocok seperti yang dibutuhkan dalam pekerjaan nantinya 
g. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila gurunya sudah memiliki pengalaman yang berhasil dalam aplikasi ketrampilan serta pengetahuan pada operasi serta sistem kerja yang juga akan dikerjakan 
h. Pada tiap-tiap jabatan ada kekuatan minimal yang perlu dimiliki oleh seorang supaya dia tetaplah bisa bekerja pada jabatan tersebut 
i. Pendidikan kejuruan mesti memerhatikan keinginan pasar (memerhatikan sinyal tanda pasar kerja) 
j. Sistem pembinaan rutinitas yang efisien pada siswa juga akan terwujud bila kursus diberi pada pekerjaan yang nyata 
k. Sumber yang bisa diakui untuk ketahui isi kursus disuatu okupasi tersebut 
l. Tiap-tiap okupasi memiliki tanda-tanda isi (body of kontent) yang tidak sama satu dengan yang lainnya 
m. Pendidikan kejuruan juga akan adalah service sosial yang efektif bila sesuai sama keperluan seorang yang memanglah membutuhkan serta memanglah paling efisien bila dikerjakan lewat pengajaran kejuruan 
n. Pendidikan kejuruan juga akan efektif bila cara pengajaran yang dipakai serta hubungan pribadi dengan peserta didik memperhitungkan sifat-sifat peserta didik tersebut 
o. Administrasi pendidikan kejuruan juga akan efektif bila dia luwes serta mengalir dari pada kaku serta terstandar 
p. Pendidikan kejuruan membutuhkan cost spesifik apabila tidak tercukupi jadi pendidikan kejuruan tidak bisa dipaksakan beroperasi. 

3. Tuntutan pengelolaan pendidikan kejuruan 
Tuntutan pengelolaan pada pendidikan kejuruan mesti sesuai sama kebijakan link and match, yakni perubahan dari alur lama yang relatif berupa pendidikan untuk pendidikan ke satu yang lebih jelas, terang serta konkrit jadi pendidikan kejuruan jadi program pengembangan sumber daya manusia. Dimensi pengembangan yang di turunkan dari kebijakan link and match, yakni : 
a. Perubahan dari pendekatan Suplai Driven ke Permintaan Driven 
Dengan deman driven ini menginginkan dunia usaha serta dunia industri atau dunia kerja lebih bertindak didalam memastikan, mendorong serta menggerakkan pendidikan kejuruan, karna mereka yaitu pihak yang lebih mempunyai urusan dari pojok keperluan tenaga kerja. Dalam pengerjaannya, dunia kerja turut berpartisipasi karna sistem pendidikan tersebut lebih menguasai dalam memastikan kwalitas tamatannya, dan dalam pelajari hasil pendidikan itupun dunia kerja turut memastikan agar hasil pendidikan kejuruan itu terjamin serta terarah dengan ukuran dunia kerja. 
Jadi satu diantara bentuk aplikasi prinsip permintaan driven, jadi dalam pengembangan kurikulum SMK mesti lakukan sinkronisasi kurikulum yng direalisasikan dalam program Pendidikan System Ganda (PSG). Dengan lakukan sinkronisasi kurikulum, penyelengaraan evaluasi di SMK diusahakan sedekat mungkin saja dengan keperluan serta keadaan dunia kerja/industri, dan mempunyai relevansi serta fleksibilitas tinggi dengan tuntutan lapangan. Lewat sinkronisasi kurikulum ini, diinginkan sekolah bisa membaca ketrampilan serta performansi apa yang diperlukan dunia usaha atau industri agar bisa dimasuki oleh lulusan SMK. 

b. Perubahan dari pendidikan berbasiskan sekolah (School Based Program) ke system berbasiskan ganda (Dual Based Program) 

Perubahan dari pendidikan berbasiskan sekolah, ke pendidikan berbasiskan ganda sesuai sama kebijakan link and match, menginginkan agar program pendidikan kejuruan itu dikerjakan di dua tempat. Beberapa program pendidikan dikerjakan di sekolah, yakni teori serta praktik basic kejuruan, serta beberapa yang lain dikerjakan didunia kerja, yakni ketrampilan produktif yang didapat lewat prinsip learning by doing. Pendidikan yang dikerjakan lewat sistem bekerja didunia kerja juga akan memberi pengetahuan ketrampilan serta nilai-nilai dunia kerja yang mustahil atau susah didapat di sekolah, diantaranya pembentukan pikiran kualitas, pikiran kelebihan, pikiran pasar, pikiran nilai lebih, serta pembentukan etos kerja. 

c. Perubahan dari jenis pengajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran ke jenis pengajaran berbasiskan kompetensi 

Perubahan ke jenis pengajaran ke berbasiskan kompetensi, punya maksud membimbing sistem pengajaran dengan segera bertujuan pada kompetensi atau beberapa unit kekuatan. Pengajaran berbasiskan kompetensi ini sekalian membutuhkan perubahan paket kurikulum kejuruan kedalam paket berupa paket-paket kompetensi. 

d. Perubahan dari program basic yang sempit (Narrow Based) ke program basic yang mendasar, kuat serta luas (Broad Based) 

Kebijakan link and match menuntut ada pengembangan, menghadap pada pembentukan basic yang mendasar, kuat serta lebih luas. System baru yang berwawasan sumberdaya manusia, berwawasan kualitas serta kelebihan berpedoman prinsip, kalau : mustahil membuat sumberdaya manusia yang berkwalitas serta yang mempunyai kelebihan, bila tidak dengan diawali pembentukan basic yang kuat. Dalam rencana penguatan basic ini, jadi peserta didik butuh di beri bekal basic yang berperan untuk membuat kelebihan, sekalian menyesuaikan pada perubahan IPTEK, dengan menguatkan penguasaan matematika, IPA, Bhs Inggris serta Computer. System baru ini mesti berikan basic yang lebih luas namun kuat serta mendasar, yang sangat mungkin seorang tamatan SMK mempunyai kekuatan beradaptasi pada peluang perubahan pekerjaan. 

e. Perubahan dari system pendidikan resmi yang kaku, ke system yang luwes serta berpedoman prinsip multy entry, multy exit 

Dengan terdapatnya perubahan dari suplai driven ke permintaan driven, dari schools based program ke dual based program, dari jenis pengajaran mata pelajaran ke program berbasiskan kompetensi ; dibutuhkan ada keluwesan yang sangat mungkin proses praktik kerja industri serta proses prinsip multy entry multy exit. Prinsip ini sangat mungkin peserta didik SMK yang sudah mempunyai beberapa unit kekuatan spesifik (karna program pengajarannya berbasiskan kompetensi), memperoleh peluang kerja didunia kerja, jadi peserta didik itu bisa saja meninggalkan sekolah. Serta bila peserta didik itu menginginkan masuk sekolah kembali merampungkan program SMK nya, jadi sekolah mesti buka diri menerimanya, serta bahkan juga menghormati serta mengaku ketrampilan yang didapat peserta didik yang berkaitan dari pengalaman kerjanya. Selain itu, system program berbasiskan ganda juga membutuhkan penyusunan praktik kerja di industri sesuai sama ketentuan kerja yang berlaku di industri yang berbeda dengan ketentuan kalender belajar di sekolah. 

f. Perubahan dari system yg tidak mengaku ketrampilan yang sudah didapat terlebih dulu, ke system yang mengaku ketrampilan yang didapat dari tempat mana serta lewat cara apa pun kompetensi itu didapat (Recognition of prior learning) 

System baru pendidikan kejuruan mesti dapat memberi pernyataan serta penghargaan pada kompetensi yang dipunyai oleh seorang. System ini juga akan berikan motivasi beberapa orang yang telah mempunyai kompetensi spesifik, umpamanya dari pengalaman kerja, berupaya memperoleh pernyataan jadi bekal untuk pendidikan serta kursus berkepanjangan. Untuk ini SMK butuh mempersiapkan diri hingga mempunyai instrument serta kekuatan menguji kompetensi seorang darimana serta lewat cara apa pun kompetensi itu diperoleh.  

g. Perubahan dari pembelahan pada pendidikan dengan kursus kejuruan, ke system baru yang mengintegrasikan pendidikan serta kursus kejuruan dengan terpadu 

Program baru pendidikan yang mengemas pendidikannya berbentuk paket-paket kompetensi kejuruan, juga akan mempermudah pernyataan serta penghargaan pada program kursus kejuruan serta program pendidikan kejuruan. System baru ini membutuhkan standarisasi kompetensi, serta kompetensi yang terstandar itu dapat diraih lewat program pendidikan, program kursus atau bahkan juga dengan pengalaman kerja yang didukung dengan gagasan belajar sendiri. 

h. Perubahan dari system terminal ke system berkelanjutan 
System baru tetaplah menginginkan serta memprioritaskan tamatan SMK segera bekerja, supaya selekasnya jadi tenaga produktif, bisa berikan return atas investasi SMK. System baru juga mengaku banyak tamatan SMK yang mungkin, serta potensi ketrampilan kejuruannya semakin lebih berkembang sekali lagi sesudah bekerja. Pada mereka ini di beri kesempatan untuk meneruskan pendidikannya ke tahap pendidikan yang lebih tinggi (umpamanya program Diploma), lewat satu sistem artikulasi yang mengaku serta menghormati kompetensi yang didapat dari SMK serta dari pengalaman kerja terlebih dulu. 
Untuk memperoleh system artikulasi yang efektif dibutuhkan “program antara” (bridging program) manfaat memantapkan kekuatan basic tamatan SMK yang telah memiliki pengalaman kerja, agar siap meneruskan ke program pendidikan yang lebih tinggi.

Baca Juga : Wisata Kopi

i. Perubahan dari manajemen terpusat ke alur manajemen mandiri (prinsip desentralisasi) 

Alur baru manajemen mandiri ditujukan berikan kesempatan pada provinsi serta bahkan juga sekolah untuk memastikan kebijakan operasional, asal tetaplah merujuk pada kebijakan nasional. Kebijakan nasioanl dibatasi pada beberapa hal yang berbentuk strategis, agar berikan kesempatan untuk beberapa pelaksana di lapangan berimprovisasi serta lakukan inovasi. Sistem pendewasaan SMK butuh diutamakan, untuk menumbuhkan rasa yakin diri sekolah lakukan apa yang baik menurut sekolah, dengan prinsip akuntabilitas (accountability) yang dengan patuh azas memberi penghargaan pada mereka yang layak dihargai, serta menindak mereka yang layak ditindak. 

j. Perubahan dari ketergantungan seutuhnya dari pembiayaan pemerintah pusat, ke swadana dengan subsidi pemerintah pusat 

Searah dengan prinsip permintaan driven, dual based program, pendewasaan manajemen sekolah, serta pengembangan unit produksi sekolah, system baru diinginkan bisa mendorong perkembangan swadana pada SMK, serta tempat tempat dana dari pemerintah pusat berbentuk menolong atau subsidi. System ini diinginkan dapat mendorong SMK berfikir serta berperilaku ekonomis.

Karakter Pendidikan Kejuruan


Pendidikan kejuruan mempunyai karakter yang berlainan dengan unit pendidikan yang lain. Ketidaksamaan itu bisa dikaji dari maksud pendidikan, substansi pelajaran, tuntutan pendidikan serta lulusannya. 
1. Maksud pendidikan kejuruan 
Pendidikan kejuruan mempunyai tujuan untuk tingkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, dan ketrampilan peserta didik untuk hidup mandiri serta ikuti pendidikan selanjutnya sesuai sama program kejuruannya. Dari maksud pendidikan kejuruan itu memiliki kandungan arti kalau pendidikan kejuruan di samping mempersiapkan tenaga kerja yang profesional juga menyiapkan peserta didik agar bisa meneruskan pendidikan ke tahap yang lebih tinggi sesuai sama program kejuruan atau bagian ketrampilan. 
Berdasar pada maksud pendidikan kejuruan diatas, jadi untuk mengerti filosofi pendidikan kejuruan butuh dikaji dari landasan penyelenggaraan pendidikan kejuruan seperti berikut : 
a. Anggapan mengenai anak didik 
Pendidikan kejuruan mesti melihat anak didik jadi individu yang senantiasa dalam sistem untuk meningkatkan pribadi serta seluruh potensi yang dipunyainya. Pengembangan ini menyangkut sistem yang berlangsung pada diri anak didik, seperti sistem jadi lebih dewasa, jadi lebih pintar, jadi lebih masak, yang menyangkut sistem perubahan karena dampak eksternal, diantaranya berubahnya karier atau pekerjaan karena perubahan sosial ekonomi orang-orang. 
Pendidikan kejuruan adalah usaha sediakan stimulus berbentuk pengalaman belajar untuk menolong mereka dalam meningkatkan diri serta potensinya. Oleh karenanya, kekhasan setiap individu dalam berhubungan dengan dunia luar lewat pengalaman belajar adalah usaha terintegrasi manfaat mendukung sistem perubahan diri anak didik dengan maksimal. Keadaan ini tertampilkan dalam prinsip pendidikan kejuruan “learning by doing”, dengan kurikulum yang bertujuan pada dunia kerja. 

 Baca Juga : Wisata Kopi

b. Konteks sosial pendidikan kejuruan 
Maksud serta isi pendidikan kejuruan selalu dibuat oleh keperluan orang-orang yang beralih demikian cepat, sekalian harus juga bertindak aktif dalam turut dan memastikan tingkat serta arah perubahan orang-orang dalam bagian kejuruannya itu. 
Pendidikan kejuruan berkembang sesuai sama perubahan tuntutan orang-orang, lewat dua institusi sosial. Pertama, institusi sosial yang berbentuk susunan pekerjaan dengan organisasi, pembagian peranan atau pekerjaan, serta tingkah laku yang terkait dengan penentuan, pencapaian serta pemantapan karier. Institusi sosial yang ke-2, berbentuk pendidikan dengan peranan gandanya jadi media pelestarian budaya sekalian jadi media terjadinya perubahan sosial. 

c. Dimensi ekonomi pendidikan kejuruan 
Hubungan dimensi ekonomi dengan pendidikan kejuruan dengan rencanatual bisa diterangkan dari kerangka investasi serta nilai balikan (value of return) dari hasil pendidikan kejuruan. Dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan, baik swasta ataupun pemerintah harusnya pendidikan kejuruan mempunyai konsekwensi investasi semakin besar dari pada pendidikan umum. Selain itu, hasil pendidikan kejuruan semestinya mempunyai kesempatan tingkat balikan (rate of return) lebih cepat dibanding dengan pendidikan umum. Keadaan itu bisa saja karna maksud serta isi pendidikan kejuruan didesain searah dengan perubahan orang-orang, baik menyangkut beberapa pekerjaan pekerjaan ataupun pengembangan karier peserta didik. 
Pendidikan kejuruan adalah usaha wujudkan peserta didik jadi manusia produktif, untuk isi keperluan pada beberapa peranan yang terkait dengan penambahan nilai lebih ekonomi orang-orang. Dalam kerangka ini, bisa disebutkan kalau lulusan pendidikan kejuruan semestinya mempunyai nilai ekonomi lebih cepat dibanding pendidikan umum. 

d. Konteks Ketenagakerjaan Pendidikan Kejuruan 
Pendidikan kejuruan mesti lebih fokus usahanya pada komponen pendidikan serta kursus yang dapat meningkatkan potensi manusia dengan maksimal. Walau pada intinya hubungan pada pendidikan kejuruan serta kebijakan ketenagakerjaan yaitu hubungan yang dilandasi oleh kebutuhan ekonomis, namun mesti senantiasa diingat kalau hubungan penyelenggraan pendidikan kejuruan tidak hanya ditetapkan oleh kebutuhan ekonomi. 
Dalam konteks ini disimpulkan kalau pendidikan kejuruan, dengan dalih kebutuhan ekonomi, tidak semestinya cuma mendidik anak didik dengan seperangkat skill atau kekuatan khusus untuk pekerjaan spesifik saja, karna kondisi ini tidak memerhatikan anak didik jadi satu totalitas. Meningkatkan kekuatan khusus dengan terpisah dari totalitas pribadi anak didik, bermakna memberi bekal yang begitu terbatas untuk masa depannya jadi tenaga kerja. 

2. Peserta didik 
Peserta didik pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lebih dikhususkan untuk anak yang berkemauan mempunyai kekuatan vokatif. Keinginan mereka sesudah lulus bisa segera bekerja atau meneruskan ke perguruan tinggi dengan ambil bagian profesional atau bagian akademik. Umur peserta didik pada umumnya pada rentang 15/16 – 18/19 th., atau peserta didik ada pada saat remaja.  

Masa remaja adalah masa peralihan pada masa anak dengan dewasa. Pada saat ini umumnya berlangsung gejolak atau ketegangan yang sehubungan dengan sisi afektif, sosial, intelektual serta moral. Keadaan ini berlangsung karna ada perubahan-perubahan baik fisik ataupun psikis yang amat cepat yang mengganggu stabilitas kepribadian anak. Oleh karenanya, didalam membuat evaluasi untuk anak yang berumur remaja ini seyogianya memerhatikan beberapa pekerjaan perubahan yang perlu dikerjakan beberapa remaja. Sebagian pekerjaan perubahan remaja yang disarikan dari Sukmadinata (2001), yakni : 
a. Dapat merajut hubungan yang lebih masak dengan sebaya serta type kelamin beda. Belajar bekerja dengan orang yang lain untuk menjangkau maksud spesifik, dapat melepas perasaan pribadi serta dapat memimpin tanpa ada menguasai. 
b. Dapat lakukan beberapa peranan sosial jadi lelaki serta wanita. Dapat menghormati, terima serta lakukan beberapa peranan sosial jadi lelaki serta wanita dewasa. 
c. Terima keadaan jasmaninya serta bisa memakainya dengan efisien. Remaja dituntut untuk senang pada serta terima dengan lumrah keadaan tubuhnya, bisa menghormati atau menghormati keadaan tubuh orang yang lain, bisa pelihara serta melindungi keadaan tubuhnya. 
d. Mempunyai keberdirisendirian emosional dari orangtua serta orang dewasa yang lain. Remaja diinginkan sudah terlepas dari ketergantungan jadi kanak-kanak dari orang tuanya, bisa menyayangi orangtua, menghormati orangtua atau orang dewasa yang lain tanpa ada bergantung pada mereka. 
e. Mempunyai perasaan dapat berdiri dengan sendiri dalam bagian ekonomi. Terlebih pada anak lelaki, lalu makin lama makin juga tumbuh pada anak wanita, perasaan dapat untuk mencari nafkah sendiri. 
f. Dapat pilih serta menyiapkan diri untuk satu pekerjaan. Anak sudah dapat buat rencana karier, pilih pekerjaan yang pas serta dapat ia lakukan, buat persiapan-persiapan yang sesuai sama. 
g. Belajar menyiapkan diri untuk perkawinan serta hidup berkeluarga. Mempunyai sikap yang positif pada hidup berkeluarga serta miliki anak. 
h. Meningkatkan beberapa rencana serta ketrampilan intelektual untuk hidup bermasyarakat. Meningkatkan beberapa rencana mengenai hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, institusi sosial yang pas untuk kehidupan moderen, meningkatkan ketrampilan berfikir serta berbahasa agar bisa memecahkan problema-problema orang-orang moderen. 
i. Mempunyai tingkah laku sosial seperti yang diinginkan orang-orang. Bisa berperan serta dengan rasa tanggung jawab untuk perkembangan serta kesejahteraan orang-orang. 
j. Mempunyai seperangkat nilai sebagai dasar untuk tindakannya. Sudah mempunyai seperangkat nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan, ada tekad serta usaha untuk mewujudkannya.

3. Substansi pendidikan kejuruan
Substansi dari pendidikan kejuruan mesti menghadirkan karakter pendidikan kejuruan yang tercermin dalam beberapa segi yang erat dengan rencana kurikulum, yakni :
a. Tujuan (Orientation)
Kurikulum pendidikan kejuruan sudah bertujuan pada sistem serta hasil atau lulusan. Kesuksesan paling utama kurikulum pendidikan kejuruan bukan sekedar diukur dengan kesuksesan pendidikan peserta didik di sekolah saja, namun dengan juga hasil prestasi kerja dalam dunia kerja. Finch serta Crunkilton (1984 : 12) menyampaikan kalau : Kurikulum pendidikan kejuruan bertujuan pada sistem (pengalaman serta kesibukan dalam lingkungan sekolah) serta hasil (dampak pengalaman serta kesibukan itu pada peserta didik).

b. Basic kebenaran/Juicetifikasi (Juicetification)
Pengembangan program pendidikan kejuruan memerlukan argumen atau juicetifikasi yang pasti. Juicetifikasi untuk program pendidikan kejuruan yaitu ada keperluan riil tenaga kerja di lapangan kerja atau didunia usaha serta industri. Basic kebenaran/juicetifikasi pendidikan kejuruan menurut Finch serta Crunkilton (1984 : 12), meluas sampai lingkungan sekolah serta orang-orang. Saat kurikulum bertujuan pada peserta didik, jadi support untuk kurikulum itu datang dari kesempatan kerja yang ada untuk beberapa lulusan.

c. Konsentrasi (Focus)
Konsentrasi kurikulum dalam pendidikan kejuruan tidak lepas pada pengembangan pengetahuan tentang satu bagian spesifik, namun mesti dengan simultan menyiapkan peserta didik yang produktif. Finch serta Crunkilton (1984 : 13) menyampaikan kalau : Kurikulum pendidikan kejuruan terkait segera dengan menolong siswa untuk meningkatkan satu tingkat pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai yang luas. Tiap-tiap segi itu pada akhirnya jadi bertambah dalam sebagian kekuatan kerja lulusan. Lingkungan belajar pendidikan kejuruan mengusahakan didalam meningkatkan pengetahuan peserta didik, ketrampilan mengikuti, sikap serta nilai dan penggabungan beberapa segi itu serta aplikasinya untuk lingkkungan kerja yang sesungguhnya.
Semua kekuatan itu diatas, bisa dikuasai oleh peserta didik lewat pengalaman belajar yang didapatkan, yakni berbentuk rangsangan yang diterapkan baik pada kondisi kerja yang tersimulasi lewat sistem belajar mengajar di sekolah ataupun kondisi kerja yang sesungguhnya pada dunia usaha atau industri (evaluasi didunia kerja). Dari hasil belajar atau kekuatan yang sudah dikuasai diinginkan bisa memberi peran pada pengembangan diri peserta didik, hingga mereka dapat bekerja sesuai sama tuntutan dunia usaha serta industri.

d. Standard kesuksesan di sekolah (In-school success standars)
Persyaratan untuk memastikan kesuksesan satu instansi pendidikan kejuruan diukur dari kesuksesan peserta didik di sekolah, tentang sebagian segi yang juga akan dia masuki. Penilaian kesuksesan pada peserta didik di sekolah mesti pada penilaian sesungguhnya atau kekuatan lakukan satu pekerjaan. Dengan kata beda kalau dalam standard kesuksesan sekolah mesti terkait erat dengan kesuksesan yang diinginkan dalam pekerjaan, dengan persyaratan yang dipakai oleh guru dengan merujuk pada standard atau prosedur kerja yang sudah ditetapkan oleh dunia kerja (dunia usaha serta dunia industri).

e. Standard kesuksesan diluar sekolah (Out-of school success standars)
Penentu kesuksesan tidak terbatas pada apa yang berlangsung di lingkungan sekolah. Standard kesuksesan diluar sekolah terkait dengan pekerjaan atau kekuatan kerja yang umumnya dikerjakan oleh dunia usaha atau dunia industri. Menurut Starr (1975), kalau : Meskipun standard kesuksesan bermacam antar sekolah serta antar Negara, namun kesuksesan itu sering ambil bentuk kenikmatan pegawai dengan ketrampilan lulusan, satu persentase tinggi lulusan yang memperoleh pekerjaan di bagian persiapan atau dalam bagian yang terkait, kenikmatan kerja lulusan, perkembangan yang dihadapi lulusan.
Jadi contoh, untuk memastikan kesuksesan diluar sekolah yang telah dikerjakan pada SMK yaitu dengan dikerjakannya uji level untuk kelas X serta XI, dan uji kompetensi untuk kelas XII yang dikerjakan oleh dunia usaha atau industri berdasar pada standard kompetensi nasional sesuai sama bagian ketrampilan.
Standard kelulusan diluar sekolah (out-of school success standars) dikerjakan oleh dunia usaha serta industri yang merujuk pada standard kompetensi sesuai sama bagian ketrampilan atau product yang dibuat oleh semasing industri.

f. Hubungan kerja sama juga dengan orang-orang (School-community relationships)
Satu usaha pendidikan mesti terkait dengan orang-orang, demikian juga dengan pendidikan kejuruan mempunyai tanggung jawab didalam menjaga hubungan yang kuat dengan beragam bagian ketrampilan yang berkembang di orang-orang.
Pengertian msyarakat yang dimakasud yaitu dunia usaha serta dunia industri. Penyelenggaraan pendidikan kejuruan mesti relevan dengan tuntutan kerja pada dunia usaha atau industri, jadi problem hubungan pada instansi pendidikan dengan dunia usaha atau industri adalah satu ciri karakter yang perlu untuk pendidikan kejuruan.
Perwujudan hubungan timbal balik berbentuk kesediaan dunia usaha atau industri, menyimpan peserta didik untuk memperoleh peluang pengalaman belajar di lapangan kerja atau industri, merpakan bentuk hubungan kerja yang sama-sama untungkan.

g. Keterlibatan pemerintah pusat (Federal involvement)
Keterlibatan pemerintah pusat ini terkait dengan dana pendidikan yang juga akan dialokasikan, karna hal semacam ini juga akan memengaruhi kurikulum. Umpamanya : Ketetapan jam pengajaran kejuruan spesifik serta type peralatan spesifik yang dipakai di bengkel atau laboratorium bisa menolong perubahan satu tingkat kwalitas yang lebih tinggi.

h. Kepekaan (Responsivenenss)
Prinsip yang tinggi selalu untuk bertujuan ke dunia kerja, pendidikan kejuruan mesti memiliki ciri berbentuk kepekaan atau daya suai pada perubahan orang-orang biasanya, serta dunia kerja pada terutama. Perubahan pengetahuan serta tehnologi, inovasi serta penemuan-penemuan baru di bagian produksi serta layanan, besar pengaruhnya pada perubahan pendidikan kejuruan. Untuk tersebut pendidikan kejuruan mesti berbentuk responsif pro aktif pada perubahan pengetahuan serta tehnologi, dengan usaha lebih mengutamakan pada sifat adaptabilitas serta fleksibilitas untuk hadapi prospek karier peserta didik dalam periode panjang.

i. Logistik
Kurikulum pendidikan kejuruan dalam implementasi aktivitas evaluasi butuh di dukung oleh sarana beajar yang ideal, karna untuk wujudkan kondisi belajar yang bisa mencerminkan kondisi dunia kerja dengan realistis serta mendidik, dibutuhkan banyak peralatan, fasilitas serta perbekalan logistik. Bengkel kerja serta laboratorium yaitu kelengkapan paling utama dalam sekolah kejuruan yang perlu ada jadi sarana untuk peserta didik didalam meningkatkan kekuatan kerja sesuai sama tuntutan dunia usaha serta industri.
Keperluan untuk koordinasi program kejuruan yang bekerja bersama dengan industri di orang-orang, terkait erat untuk merajut serta menjaga pusat kerja untuk peserta didik tunjukkan satu susunan unit persoalan logistik.

j. Pengeluaran (Expense)
Pengeluaran teratur jadi cost pendidikan pada pendidikan kejuruan yang mendukung aktivitas evaluasi, meliputi cost listrik, air, pemeliharaan serta pergantian perlengkapan, cost transportasi ke tempat/industri (tempat praktik kerja/magang) yang jauh dari sekolah. Selain itu, perlengkapan mesti diperbarui dengan periodik juga guru mengharapkan untuk memberi pengalaman belajar yang sesungguhnya untuk peserta didik seperti seperti di industri, jadi ini dapat jadi mahal. Yang paling akhir yang harus juga jadi perhatian yaitu pembelian bahan habis jadi bahan praktikum yang dipakai dengan teratur sesuai sama program ketrampilan yang diperkembang pada SMK semasing.
Dari uraian tentang karakter pendidikan kejuruan yang disarikan dari Finch serta Crunkilton (1984) diatas, bisa jadikan referensi didalam pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan di Indonesia. Kurikulum pendidikan kejuruan yang diperkembang di Indoneisa seyogianya merujuk pada karakter seperti berikut :
1) Pendidikan kejuruan diarahkan untuk menyiapkan peserta didik masuk lapangan kerja
2) Pendidikan kejuruan didasarkan atas keperluan dunia kerja
3) Konsentrasi isi pendidikan kejuruan diutamakan pada penguasaan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai-nilai yang diperlukan oleh dunia kerja.
4) Penilaian yang sebenarnya pada keberhasilan peserta didik mesti pada “hands-on” atau performance dalam dunia kerja
5) Hubungan yang erat dengan dunia kerja adalah kunci kesuksesan pendidikan kejuruan
6) Pendidikan kejuruan yang baik yaitu responsif serta antisipatif pada perkembangan teknologi
7) Pendidikan kejuruan lebih diutamakan pada “learning by doing”
8) Pendidikan kejuruan membutuhkan sarana yang canggih untuk praktik sesuai sama tuntutan dunia usaha serta industri

Pendidikan Kualitas Pendidikan SMK

1. Pengertian SMK 

Undang-undang Sisdiknas No. 20 Th. 2003 sudah menyebutkan kalau Pendidikan nasional berperan meningkatkan kekuatan serta membuat watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rencana mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai tujuan untuk mengembangnya potensi peserta didik supaya jadi manusia yang beriman serta bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta jadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab” (Pasal 3 UU RI No 20/2003).

Sekolah Menengah Kejuruan yaitu satu diantara tahap pendidikan menengah dengan kekhususan menyiapkan lulusannya untuk siap bekerja. Pendidikan kejuruan memiliki makna yang beragam tetapi bisa diliat satu benang merahnya. Menurut Evans dalam Djojonegoro (1999) mendeskripsikan kalau pendidikan kejuruan yaitu sisi dari system pendidikan yang menyiapkan seorang supaya lebih dapat bekerja disuatu grup pekerjaan atau satu bagian pekerjaan dari pada sebagian bagian pekerjaan yang lain. Dengan pengertian kalau tiap-tiap bagian studi yaitu pendidikan kejuruan selama bagian studi itu dipelajari lebih mendalam serta kedalaman itu ditujukan jadi bekal masuk dunia kerja. 
Merujuk pada pada isi Undang-Undang System Pendidikan Nasional No. 20 Th. 2003 pasal 3 tentang maksud pendidikan nasional serta keterangan pasal 15 yang mengatakan kalau pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang menyiapkan peserta didik terlebih untuk bekerja di bagian spesifik. 
Pendidikan kejuruan yaitu pendidikan yang menyiapkan peserta didik agar bisa bekerja dalam bagian spesifik. Pengertian ini memiliki kandungan pesan kalau tiap-tiap institusi yang mengadakan pendidikan keJuruan mesti memiliki komitmen jadikan tamatannya dapat bekerja dalam bagian spesifik (Depdikbud, 1995). 
Berdasar pada pengertian diatas, jadi sekolah menengah kejuruan jadi sub system pendidikan nasional seyogyanya memprioritaskan menyiapkan peserta didiknya untuk dapat pilih karier, masuk lapangan kerja, bersaing, serta meningkatkan dianya dengan berhasil di lapangan kerja yang cepat beralih serta berkembang. 
Terwujud tidaknya maksud diatas begitu bergantung pada input serta beberapa variabel dalam sistem pendidikan. Satu diantara variabel dalam sistem pendidikan yang memastikan ketercapaian maksud SMK yaitu kerja sama pada SMK dengan dunia usaha serta dunia pendidikan tinggi (Depdikbud, 1995). Makin erat hubungan pada SMK dengan dunia pendidikan tinggi, asumsinya makin baik kwalitas tamatannya, yang bermakna kwalitas tamatan bisa ditingkatkan karna didunia pendidikan tinggi, pengetahuan serta tehnologi juga akan berkembang. 

Baca Juga : Wisata Kopi

2. Tingkatkan Peranan serta Peranan Guru 
Keperluan warga SMK mesti di perhatikan termasuk kesejahteraan guru serta tenaga tata usaha. Jika kesejahteraan guru terjamin, guru bisa berikan perhatian yang lebih pada pengajaran. 
Dalam dunia pendidikan, peranan serta peranan guru adalah satu diantara aspek yang begitu penting. Guru adalah sisi terutama dalam sistem belajar mengajar, baik di jalur pendidikan resmi, informal ataupun nonformal. Oleh karenanya, dalam tiap-tiap usaha penambahan kwalitas pendidikan di tanah air, guru tidak bisa dilepaskan dari beragam hal yang terkait dengan eksistensi mereka. Guru yaitu pendidik profesional dengan pekerjaan paling utama mendidik, mengajar, menuntun, mengarahkan, melatih, menilainya, serta mengevaluasi peserta didik. 
Untuk tingkatkan kualitas siswa, tenaga guru juga mesti yang profesional. Maksudnya, untuk tingkatkan lingkungan hidup serta kaitan dalam pengetahuan pendidikan. Penambahan kwalifikasi guru hingga ke tahap pendidikan S1 sampai S3. Kwalifikasi guru yang diutamakan untuk ditingkatkan, terlebih di daerah terpencil, ketinggalan serta susah dijangkau yang belum juga menjangkau kwalifikasi pendidikan S1. Maksudnya mengecilkan kesenjangan kualitas guru antardaerah, penuhi kriteria minimum profesionalisme tenaga pendidik dalam program sertifikasi guru. Dan memperluas pemerataan pendidikan untuk guru. 

3. Tingkatkan Langkah Belajar 
Thabrany (1993) menyampaikan kalau langkah belajar adalah aspek kunci yang memastikan berhasil tidaknya belajar. Hal semacam ini begitu perlu mengingat siswa SMK disediakan jadi tenaga kerja trampil manfaat masuk dunia kerja. Dalam hal semacam ini supaya maksud itu terwujud jadi tingkat penguasaan serta ketrampilan dan bagian ketrampilan lulusan SMK mesti sesuai sama tuntutan keperluan dunia kerja. 
Dalam rencana tingkatkan kualitas pendidikan kejuruan, problem yang perlu memperoleh perhatian yaitu problem langkah belajar siswa. Mengingat kesuksesan perolehan maksud belajar bukan sekedar hanya ditetapkan aspek kurikulum tetapi factor langkah belajar yang begitu memastikan berhasil tidaknya aktivitas pendidikan. 
Langkah belajar adalah satu langkah bagaimana siswa melakukan aktivitas belajar umpamanya bagaimana mereka menyiapkan belajar, ikuti pelajaran, kesibukan belajar mandiri yang dikerjakan, alur belajar mereka, langkah ikuti ujian. Kwalitas langkah belajar juga akan memastikan kwalitas hasil belajar yang didapat. Langkah belajar yang baik juga akan mengakibatkan berhasilnya belajar, demikian sebaliknya langkah belajar yang jelek juga akan mengakibatkan kurang berhasil atau tidak berhasilnya belajar The Liang Gie (1984). 
Problem langkah belajar saat ini butuh memperoleh perhatian karna kwalitas langkah belajar siswa SMK cukup memprihatinkan. Sukir (1995) mengemukan kalau masih tetap cukup banyak siswa yang memiliki langkah belajar kurang baik seperti belajar dengan saat yg tidak teratur (tidak mempunyai jadwal), belajar sembari menontonTV atau dengarkan radio, lakukan belajar dengan berpindah-pindah, seringkali terlambat masuk sekolah, serta cuma belajar pada saat hadapi ujian saja. 
Buruknya langkah belajar adalah satu diantara aspek penyebabnya rendahnya hasil belajar hingga mengakibatkan berkurangnya kualitas pendidikan. Slameto (2002) menyampaikan kalau aspek langkah belajar yang jelek adalah penyebabnya masih tetap cukup banyak siswa yang sesungguhnya pintar namun cuma mencapai prestasi yg tidak tambah baik dari siswa yang sesungguhnya kurang pintar namun dapat mencapai prestasi yang tinggi karna memiliki langkah belajar yang baik. 
Segi beda yang butuh memperoleh perhatian terkait lewat cara belajara siswa yaitu karakter mata diklat yang dipelajari. Tiap-tiap mata diklat mempunyai sifat ataupun ciri spesial yang berlainan dengan mata diklat yang lain. Menurut Winkel (1996 : 245) diliat dari sisi tujuan belajar karakter mata diklat dibedakan jadi 1) Menuntut kekuatan pengetahuan, 2) Memprioritaskan segi sikap, 3) Memprioritaskan segi keterampilan. 
Langkah belajar tidaklah hanya satu variabel yang terkait dengan prestasi belajar yang diraih oleh siswa. Banyak variabel beda yang memengaruhi diantaranya motivasi serta ketertarikan belajar, lingkungan, fasilitas, prasarana, guru, serta beda sebagainya. 

Baca Juga : Wisata Kopi

4. Merajut Hubungan serta Kerja Sama 
Hubungan kerja yaitu satu usaha atau aktivitas dengan yang dikerjakan oleh ke-2 belah pihak dalam rencana untuk menjangkau maksud dengan (Depdikbud, 1995). Dari pengertian ini terdapat arti kalau ke-2 belah pihak butuh buat kesaepakatan mengenai maksud ataupun aktivitas hubungan kerja. Terdapat juga arti kalau hubungan kerja juga akan mengakibatkan sama-sama ketergantungan pada pihak pertama serta pihak ke-2 serta hubungan berbentuk interakfif. 
Untuk SMK faedah merajut hubungan kerja dengan instansi pendidikan tinggi yaitu seperti berikut : 1) Kwalitas program-program SMK bisa ditingkatkan atas pertolongan serta hubungan kerja dengan perguruan tinggi ; 2) Hubungan kerja bisa memperingan beaya penyelenggaraan serta pengembangan SMK ; 3) Dengan hubungan kerja yang baik, SMK juga akan dapat ikuti perubahan canggih pendidikan tinggi, terutama iptek, hingga apa yang di ajarkan di SMK tidak ketinggal dengan perubahan iptek sekarang ini ; 4) Hubungan kerja juga akan menolong ketercapaian maksud SMK ; 5) Hubungan kerja bisa menolong tingkatkan pikiran serta kekuatan guru mengenai : apa yang perlu di ajarkan, bagaimana caranya mengajar yang lebih efisien serta efektif, bagaimana caranya membuat riset yang bermanfaat untuk tingkatkan kuialitas siswanya, dsb. 
Sedang untuk instansi pendidikan tinggi, hubungan kerja dengan SMK adalah satu diantara keharusan yakni melakukan dedikasi pada orang-orang. Selain itu instansi pendidikan tinggi bisa kirim mahasiswanya untuk melakukan praktek kerja lapangan atau membuat riset, serta untuk tempat lakukan riset serta meningkatkan cara mengajar untuk dosen, dsb. Dengan hal tersebut lewat hubungan kerja dengan SMK diinginkan dapat juga tingkatkan kekuatan serta ketrampilan mengajar untuk mahasiswa lewat pengembangan praktek mengajar serta praktek lapangan di SMK. 
Untuk tingkatkan mutunya, SMK butuh bekerja bersama dengan beragam pihak diantaranya dunia usaha/industri, perguruan tinggi, serta orang-orang yang lain. Hubungan kerja itu dikerjakan atas basic sama-sama untungkan. Bagian-bidang hubungan kerja yang juga akan dikerjakan terlebih dulu mesti diidentifikasi serta sesuai dengan keperluan serta potensi ke-2 belah pihak supaya berguna. 

5. Tingkatkan Pendidikan System Ganda (PSG) 
Satu diantara bentuk riil implementasi kebijakan kesesuaiandan kesepadanan yaitu proses Pendidikan System Ganda (PSG) pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pendidikan System Ganda pada intinya memiliki kandungan dua prinsip, yakni : Pertama, Program pendidikan kejuruan pada SMK yaitu program dengan pada SMK dengan industri/perusahaan pasangannya. Ke-2, Program pendidikan kejuruan dikerjakan di dua tempat beberapa program yakni teori serta praktek basic kejuruan di sekolah (SMK), serta beberapa yang lain dikerjakan didunia kerja. 
Alur penyelenggaraan pendidikan di dua tempat ini juga akan memaksa SMK mendekatkan dunianya (dunia sekolah) ke dunia kerja, sesuaikan berisi dengan keperluan kerja, untuk memudahkan tranfer nilai-nilai serta tingkah laku kerja seperti yang berlaku didunia kerja (Djojonegoro, 1995). PSG juga ditujukan jadi pranata untuk percepat sistem pengembangan pendidikan kejuruan dan stategi pengembangannya. 

6. Tingkatkan Praktik Kerja Industri (Prakerin) 
Proses praktik kerja industri untuk siswa peroleh banyak keuntungan. Product lulusan/siswa semakin lebih berarti, karna sesudah tamat juga akan akan benar-benar mempunyai bekal ketrampilan (life skills) profesional untuk terjun ke lapangan kerja hingga bisa tingkatkan skala kehidupannya serta untuk bekal pengembangan dianya dengan berkepanjangan. Ketrampilan (life skills) yang didapat bisa mengangkat harga serta rasa yakin diri tamatan. 
Menurut Miraza (2008), pemerintah butuh meninjau ulang kebijakan pendidikan dan penyempurnaan piranti pendidikan, software maupun hardware. Disusun satu kebjiakan pendidikan baru yang sesuai sama kondisi serta keadaan dan keperluan pembangunan bangsa serta negara. Ketrampilan, ketrampilan, serta moral butuh diutamakan pada beberapa lulusan supaya beberapa lulusan mempunyai sikap kemandirian serta harga diri tinggi. 

7. Membuat serta Tingkatkan Program Kecakapan Hidup 
Satu diantara usaha yang dikerjakan dalam tingkatkan kwalitas Pendidikan Nasional yaitu satu diantaranya dikerjakan yaitu Pengembangan Gagasan Sekolah (RPS). Yakni bagaimana sekolah meningkatkan program-program yang mempunyai tujuan untuk tingkatkan kwalitas pendidikan yang sesuai sama misi serta visi dari SMK yakni hasilkan lulusan yang berkwalitas, mandiri dan mempunyai ketrampilan serta ketrampilan. Menurut Rohiat (2008), diantara RPS yang disusun salah nya ialah Pengembangan Pendidikan Kecakapan Hidup/PKH (life skills education). 
Menurut WHO, kecakapan hidup (life skills) yaitu kekuatan tingkah laku positif serta adaptif yang mensupport seorang untuk dengan efisien menangani tuntutan serta tantangan sepanjang hidupnya. Dalam UU Pendidikan Nasional No. 20/2003 pasal 26 ayat 3 dijelaskan kalau Life Skills Education (LSE) dikelompokkan jadi pendidikan non resmi, yang memberi ketrampilan personal, sosial, intelektual/akademis serta vokasional untuk bekerja dengan mandiri. 
Depdiknas (2002), menyatakan pendidikan kecakapan hidup (life skills) bisa diambil jadi : 1) Kecakapan personal yang meliputi kecakapan tentang sendiri, berfikir rasional, serta yakin diri. 2) Kecakapan sosial seperti kecakapan lakukan hubungan kerja, bertenggang rasa, serta bertanggungjawab sosial. 3) Kecakapan akademik seperti kecakapan dalam lakukan riset, percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. 4) Kecakapan vokasional yaitu kecakapan yang terkait dengan satu bidan kejuruan/ketrampilan spesifik sepeti dibidan perbengkelan, jahit-menjahit, peternakan, pertanian, produksi barang spesifik. 
Menurut Depdiknas (2002), penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup pada unit serta program pendidikan kecakapan hidup (life skills), dikerjakan dalam rencana ikut memecahkan problem pengangguran, kemisikan, lebih diutamakan dalam usaha evaluasi yang dapat memberi pendapatan (learning and earning). 

8. Tingkatkan Rencana Pendidikan 
Sistem rencana pendidikan yaitu diawali dari mengerti permasalah pendidikan, mengkaji bagian pelajarian, mengkonsepsikan serta membuat gagasan, menspesifikasikan gagasan yang sudah disusun, mengimplementasikan gagasan, serta memonitor proses gagasan (Saud serta Makmun, 2006). Rencana pendidikan untuk masa yang akan datang yaitu untuk tingkatkan daya saing serta kelebihan kompetitif di semuanya bidang industri serta bidang layanan dengan memercayakan kekuatan SDM. 

9. Tingkatkan Tehnologi Info (TI) 
Tanenbaum (1999) menyebutkan kalau pengertian tehnologi info yaitu satu bagian ilmu dan pengetahuan yang perubahannya begitu cepat. Tehnologi info jadi satu ilmu dan pengetahuan begitu luas pokok bahasannya. Tehnologi info adalah ilmu dan pengetahuan yang meliputi beragam hal seperti : system computer hardware serta software, LAN (Local Ruang Network), MAN (Metropolitan Ruang Network), WAN (Wide Ruang Network), system info manajemen (SIM), system telekomunikasi dan sebagainya. Diluar itu, SMK butuh bagian tehnologi beda seperti otomotif, elektronika, dan sebagainya. Karenanya dibutuhkan arus info yang baik dalam SMK itu. 
Perlunya info dalam satu organisasi seperti dikemukakan oleh Singh A. (2005 : 2) kalau Information sistem is to provide accurate and relevant information to users at the right time and at the appropriate level of detil. Berdasar pada pendapat Singh A itu bisa di ketahui kalau system info berperan untuk sediakan info yang sesuai sama serta akurat pada beberapa pemakai ketika yang pas. Dengan hal tersebut bisa diambil kesimpulan kalau keperluan TI dalam pengembangan SMK adalah satu hal yang mutlak. Dengan terdapatnya TI, SMK bisa dengan gampang terhubung perubahan tehnologi hingga dalam sistem belajar mengajar (PBM) senantiasa aktual.

Tujuan Pendidikan SMK

Tujuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bisa dirangkum sebagai berikut. 
  1. Mempersiapkan siswa supaya mempunyai kepribadian yang bermoral serta beretika hingga dapat tingkatkan kwalitas hidup serta mempunyai ketrampilan yang andal di bagiannya (terlebih di bagian akomodasi perhotelan, usaha layanan pariwisata serta boga). 
  2. Mempersiapkan siswa supaya dapat kuasai serta ikuti perubahan teknologi 
  3. Mempersiapkan siswa jadi tenaga kerja yang trampil produktif agar bisa isi lowongan kerja yang ada serta dapat membuat lapangan kerja terlebih di bagian akomodasi perhotelan, usaha layanan pariwisata serta boga 
  4. Memberi kesempatan masa depan tambah baik, bila tidak dapat meneruskan ke tahap yang lebih tinggi
Baca Juga: Wisata Kopi

Jangan Salah Menilai SMK

apakah benar murid smk yaitu murid paling mbeeling sedunia? 
telah jadi imej orang-orang kalau anak-anak smk memanglah relatif ndugal di banding siswa-siswa SMA. Mungkin saja hal itu yaitu asumsi yang salah, namun mungkin saja ada juga benarnya. 
Dunia siswa SMK terutama yang rumpun tehnik memanglah relatif lebih keras serta kering... 



1. Pikirkan, dalam satu sekolah mungkin saja cuma terdapat banyak gelintir siswi 
2. Pikirkan, telinga mereka telah terlanjur pekak dengan nada mesin serta bentrokan logam 
3. Pikirkan, umumnya guru mereka juga yaitu guru-guru kosro... 

hehehe... namun, yakin atau tidak, lulusan SMK memiliki metal disiplin serta tanggung jawab yang tinggi? 

Seringkali saksikan iklan mengenai kelebihan SMK di tv? ya, iklan yang dibawakan oleh Tantowi Yahya yang mengunggulkan SMK daripada SMA (interprestasi saya sekian). Iklan yang melukiskan kalau siswa dari lulusan SMK punya potensi siap kerja dengan kekuatan yang diperolehnya dari bangku sekolah. Baik itu SMK tehnik, SMK pertanian, serta beda sebagainya. Dengan pengetahuan serta kekuatan yang di perolehnya di berharap lulusan dari SMK siap diterjunkan dalam dunia kerja sesuai sama spesifikasi kekuatannya. Iklan itu juga disponsori oleh Dinas Pendidikan Nasional. 
Memanglah ada banyak hal yang sangat mungkin lulusan SMK dapat diinginkan lebih siap kerja dari pada lulusan SMA. Umpamanya saja siswa lulusan SMK jurusan otomotif, siswa itu segera dapat bekerja pada pabrik perakitan sepeda motor sedang lulusan SMA tidak. Namun apakah benar demikian mudahnya lulusan SMK peroleh pekerjaan? 

Kita ketahui kalau bila satu SMK membutuhkan sarana semakin banyak di banding dengan satu SMA. Satu SMK yang mempunyai jurusan otomotif serta elektro terkecuali membutuhkan ruangan belajar juga membutuhkan beragam ruangan yang lain, umpamanya saja satu bengkel serta beda sebagainya. SMK itu harus juga memiliki perlengkapan serta peralatan yang cukup untuk mendukung dalam aktivitas praktek siswa itu. Tetapi bagaimana bila semuanya sarana itu tidak dipenuhi atau mungkin dengan kata beda SMK yang minim sarana? 

Baca Juga : Wisata Kopi

Bila SMK yang favorite serta ada di kota besar bukanlah mustahil semuanya sarana kelengkapan penunjang satu SMK dipenuhi. Namun dalam faktaya banyak SMK-SMK di pelosok yang masih tetap minim sarana, gedung saja masih tetap *nunut di sekolah beda. Bila beberapa siswa yang diluluskan dengan hasil dari kurangnya sarana, peluang tidak laik kerja. Berlainan bila SMK itu satu SMK favorite yang berfasilitas komplit. Lulusan SMK favorite serta berfasilitas komplit besar peluang laik kerja. Tetapi sebagai persoalannya yaitu cost masuk ke SMK favorite itu serta bebrapa cost lainnya sepanjang rentang saat belajar. Untuk dapat masuk di sekolah favorite serta berfasilitas komplit umumnya membutuhkan cost yang lebih. 

Lulusan SMA juga mungkin siap kerja. Terlebih apabila didukung dengan kekuatan beda. Jadi ada plus minus nya bila kita dapat menyimaknya. Bergantung dari pilihan kita, tentukan SMK atau SMA. Semuanya ada konsekwensinya.

5 Keungggulan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)


SMK adalah kependekkan dari Sekolah Menengah Kejuruan. SMK adalah satu diantara tahap pendidikan menengah yang mempunyai tujuan menyiapkan lulusannya dapat segera bekerja. Hal semacam ini sesuai sama isi Undang-Undang System Pendidikan Nasional No. 20 Th. 2003 pasal 3 tentang maksud pendidikan nasional serta keterangan pasal 15 yang menerangkan mengenai pendidikan kejuruan yaitu pendidikan menengah yang menyiapkan peserta didik terlebih untuk bekerja di bagian spesifik. 

Baca Juga : Wisata Kopi

Pendidikan kejuruan adalah sisi dari system pendidikan yang menyiapkan lulusannya mempunyai bekal yang cukup manfaat bekerja di perusahaan dan kuasai satu bagian pekerjaan dari sekin banyak bagian pekerjaan yang lain. Karna saat menimba pengetahuan di SMK, lulusannya memahami tiap-tiap bagian studi atau pendidikan kejuruan yang menghadap siap gunakan saat masuk dunia kerja. 

Sekarang ini serta di masa-masa yang akan datang, jumlah lapangan kerja industri termasuk minim jumlahnya, sesaat jumlah pengangguran semakin banyak. Dengan terdapatnya SMK, sudah pasti juga akan buka lapangan kerja dengan jumlah SDM yang punya potensi makin banyak jumlahnya. Esensinya, belajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) siswa/siswi semakin lebih terukur. 


Dari demikian banyak argumen pilih sekolah menengah kejuruan, di bawah ini 5 (lima) argumen paling utama kenapa anak-anak butuh meneruskan ke SMK selepas SMP. 
  1. Tiap-tiap siswa juga akan di beri bekal mengenai ilmu dan pengetahuan spesial yang sesuai dengan ketertarikan dan kekuatan semasing siswa. 
  2. Siswa juga akan didorong untuk mempunyai bakat berwiraswasta (mempunyai jiwa enterpreneurship) atau kewirausahaan. Nanti, tiap-tiap siswa SMK punya kebiasaan mempunyai norma dan etos kerja yang tinggi. 
  3. Siswa SMK selalu diberi landasan (basic) berbentuk kursus kerja atau umum dimaksud dengan Pendidikan System Ganda (PSG). 
  4. Siswa juga akan di ajarkan supaya mampu memastikan pilihan bagian keterampilan serta ketrampilan yang perlu diperkembang. 
  5. Lulusan SMK cepat peroleh pekerjaan, karna banyak perusahaan yang inginkan fresh graduate seperti lulusan SMK. 

Pembaca, mahalnya cost pendidikan di Indonesia, pastinya juga akan buat orang-tua berfikir tujuh keliling bagaimana mensiasatinya. Dengan pilih SMK jadi orang-tua telah melakukan tindakan dengan benar serta maksud anaknnya juga akan gampang mencari pekerjaan benar-benar pas tujuan. 

Membaca artikel 5 (lima) Argumen Pilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ini, apa butuh orang-tua berfikir lama untuk memasukkan anak-anaknya meneruskan pendidikan dengan masuk sekolah menengah kejuruan?

Konsep Pembelajaran di SMK

Perubahan jaman menuntut pembinaan sumber daya manusia yang berkwalitas. Daya saing Indonesia dalam hadapi persaingan perebutan antar negara ataupun perdagangan bebas begitu ditetapkan oleh outcome dari pembinaan SDM-nya. Satu diantara usaha negara dalam pemenuhan SDM level menengah yang berkwalitas yaitu pembinaan pendidikan kejuruan. 

Rumusan makna pendidikan kejuruan begitu beragam. Menurut Rupert Evans (1978), pendidikan kejuruan yaitu sisi dari system pendidikan yang menyiapkan seorang supaya lebih dapat bekerja pada satu grup pekerjaan atau satu bagian pekerjaan dari pada sebagian bagian pekerjaan yang lain. Berdasarkan keterangan Undang-Undang Nomor 20 Th. 2003 Pasal 15, pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang menyiapkan peserta didik terlebih untuk bekerja dalam bagian spesifik. Pendidikan kejuruan terbagi dalam Sekolah Menengah Kejuruan, serta Madrasah Aliyah Kejuruan. 



Karakter Pendidikan Kejuruan (Djojonegoro, 1998) yaitu seperti berikut : 

  1. Pendidikan kejuruan diarahkan untuk menyiapkan peserta didik masuk lapangan kerja 
  2. Pendidikan kejuruan didasarkan atas “demand-driven” (keperluan dunia kerja) 
  3. Konsentrasi isi pendidikan kejuruan diutamakan pada penguasaan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai-nilai yang diperlukan oleh dunia kerja 
  4. Penilaian yang sebenarnya pada keberhasilan siswa mesti pada “hands-on” atau perform dalam dunia kerja 
  5. Hubungan yang erat dengan dunia kerja adalah kunci berhasil pendidikan kejuruan 
  6. Pendidikan kejuruan yang baik yaitu responsif serta antisipatif pada perkembangan teknologi 
  7. Pendidikan kejuruan lebih diutamakan pada “learning by doing” serta “hands-on experience” 
  8. Pendidikan kejuruan membutuhkan sarana yang canggih untuk praktek 
  9. Pendidikan kejuruan membutuhkan cost investasi serta operasional yang semakin besar dari pada pendidikan umum 

Prinsip-prinsip Pendidikan Kejuruan menurut Charles Prosser (1925) yaitu seperti berikut : 

1. Pendidikan kejuruan juga akan efektif bila lingkungan dimana siswa dilatih adalah tiruan lingkungan dimana kelak ia juga akan bekerja 
2. Pendidikan kejuruan juga akan efisien cuma bisa diberi dimana beberapa pekerjaan latihan dikerjakan lewat cara, alat, serta mesin yang sama dengan yang diaplikasikan ditempat kerja 
3. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila dia melatih seorang dalam rutinitas berfikir serta bekerja seperti yang dibutuhkan dalam pekerjaan itu sendiri 
4. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila dia bisa memampukan tiap-tiap individu memodali minatnya, pengetahuannya, serta ketrampilannya pada tingkat yang paling tinggi 
5. Pendidikan kejuruan yang efisien untuk tiap-tiap profesi, jabatan, atau pekerjaan cuma bisa diberi pada seorang yang memerlukannya, yang menginginkannya, serta yang bisa untung darinya 
6. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila pengalaman latihan untuk membuat rutinitas kerja serta rutinitas berpikir yang benar diulangkan hingga cocok seperti yang dibutuhkan dalam pekerjaan nantinya 
7. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila gurunya sudah memiliki pengalaman yang berhasil dalam aplikasi ketrampilan serta pengetahuan pada operasi serta sistem kerja yang juga akan dikerjakan 
8. Pada tiap-tiap jabatan ada kekuatan minimal yang perlu dimiliki oleh seorang supaya dia tetaplah bisa bekerja pada jabatan tersebut 
9. Pendidikan kejuruan mesti memerhatikan keinginan pasar (memerhatikan sinyal tanda pasar kerja) 
10. Sistem pembinaan rutinitas yang efisien pada siswa juga akan terwujud bila kursus diberi pada pekerjaan yang riil (pengalaman sarat nilai) 
11. Sumber yang bisa diakui untuk ketahui isi kursus disuatu okupasi spesifik yaitu dari pengalaman beberapa ahlu pada okupasi tersebut 
12. Tiap-tiap okupasi memiliki tanda-tanda isi yang tidak sama satu dengan yang lainnya 
13. Pendidikan kejuruan juga akan adalah service sosial yang efektif bila sesuai sama keperluan seorang yang memanglah mememrlukan serta memanglah paling efisien bila dikerjakan lewat pengajaran kejuruan 
14. Pendidikan kejuruan juga akan efektif bila cara pengajaran yang dipakai serta hubungan pribadi dengan peserta didik memperhitungkan sifat-sifat peserta didik tersebut 
15. Administrasi pendidikan kejuruan juga akan efektif bila dia luwes serta mengalir dari pada kaku serta terstandar 
16. Pendidikan kejuruan membutuhkan cost spesifik apabila tidak tercukupi jadi pendidikan kejuruan tidak bisa dipaksakan beroperasi 

Baca Juga : Wisata Kopi 


Jenis Penyelenggaraan Pendidikan Kejuruan 

1. Jenis Sekolah 
Pada jenis ini evaluasi dikerjakan seutuhnya di sekolah. Jenis ini beranggapan kalau segalanya yang berlangsung ditempat kerja bisa di ajarkan di sekolah serta semuanya sumber belajar berada di sekolah. Jenis ini banyak di adopsi di Indonesia sebelumnya Repelita VI. 

2. Jenis Magang 
Pada jenis ini evaluasi bebrapa basic kejuruan dikerjakan di sekolah serta inti kejuruannya di ajarkan di industri lewat system magang. Jenis ini banyak diadopsi di Amerika Serikat. 

3. Jenis System Ganda 
Jenis ini adalah kombinasai pemberian pengalaman belajar di sekolah serta pengalaman kerja didunia usaha. Dalam system ini system evaluasi tersistem serta terpadu dengan praktek kerja didunia usaha/industri. 

4. Jenis School-based Enterprise 
Jenis ini di Indonesia di kenal dengan unit produksi. Modul ini pada intinya yaitu meningkatkan dunia usaha di sekolahnya dengan maksud sesain untuk menaikkan pendapatan sekolah, juga untuk memberi pengalaman kerja yang betul-betul riil pada siswanya. Jenis ini dikerjakan untuk kurangi ketergantungan sekolah pada industri.